Senin, 21 September 2026
Rabu, 22 Februari 2023
SMPIT Bina Insan Kamil Sidareja Semarakan Hari Peduli Sampah Nasional 2023
Dalam rangka Hari Peduli Sampah Nasional (HPSN) pada Selasa, 21 Februari 2023 SMP IT Bina Insan Kamil Sidareja melakukan Gerakan Pungut Sampah (GPS) bersama. Gerakan Pungut Sampah adalah salah satu upaya agar bisa membiasakan diri untuk menjaga kebersihan di lingkungannya dengan cara memungut sampah di lingkungan sekitar.
Tujuan diadakan kegiatan ini adalah untuk membangun kesadaran masyarakat Sidareja akan pentingnya lingkungan yang bersih dan bebas dari sampah. Beberapa dampak yang dihasilkan oleh sampah apabila tidak dikelola dengan baik maka akan menimbulkan banyak sumber penyakit di lingkungan tempat tinggal yang berbahaya bagi kesehatan manusia, pencemaran udara dan juga banjir.
Pelaksanaan tersebut sesuai dengan himbauan dari Kepala Dinas Lingkungan Hidup Kabupaten Cilacap yang bertema "Tuntas Kelola Sampah Untuk Kesejahteraan Masyarakat". Kegiatan gerakan pungut sampah ini dilakukan oleh seluruh warga sekolah, mulai dari Kepala Sekolah, Guru, Karyawan dan Siswa/Siswi SMP IT Bina Insan Kamil Sidareja dan juga Bapak Camat Sidareja beserta pegawai di lingkungan kecamatan Sidareja.
Menurut Bapak Camat Sidareja Nugroho Slamet Budi Santosa, S.STP., M. Si. menyampaikan dalam sambutannya Gerakan Pungut Sampah merupakan program positif untuk meningkatkan kebersihan lingkungan sehingga nyaman untuk beraktivitas. Selain itu Bapak Camat jg memotivasi dan mengarahkan agar kegiatan gerakan pungut sampah ini dilakukan dengan cara memilah terlebih dahulu mana yang termasuk sampah organik dan mana yang termasuk sampah anorganik.
Ust. Heri Apriyanto, S.Pd. selaku kepala SMP IT Bina Insan Kamil Sidareja menyampaikan dalam kampanye pengelolaan sampah, bahwasanya pembiasaan kegiatan positif ini tidak berhenti pada hari ini, namun kegiatan ini dapat dilaksanakan secara rutin.
Mari jadikan hari peduli sampah nasional momentum bagi kita menjaga keasrian, keindahan dan kenyamanan alam sekitar. Annadzofatu minal iman, Kebersihan sebagian dari iman.
Semoga kegiatan kecil dan sederhana ini dapat menjadi awalan untuk mengubah kultur masyarakat Sidareja, sehingga lebih mencintai lungkungannya. “Perubahan kultur dari yang biasanya cuek, biasanya buang sampah sembarangan, kultur yang biasa pasif menjadi aktif untuk mencintai kebersihan,” kata Umy Habibah, S.Pd.Si. selaku koordinator kegiatan ini disela-sela melakukan gerakan pungut sampah.
Jumat, 02 Desember 2022
Penggunaan Gadget Dan Penurunan Konsentrasi Belajar Pada Anak Usia Sekolah
Oleh: Nadzifatun Nisa, S.Pd.
Gadget merupakan
barang canggih yang diciptakan dengan
berbagai aplikasi yang dapat menyajikan berbagai media berita, jejaring sosial bahkan hiburan.
Penggunaan gadget yang berlebihan pada anak usia sekolah
terkadang sering menimbulkan masalah pada proses belajar. penggunaan gadget
berdampak pada penurunan konsentrasi pada anak dan dapat memberikan dampak negative terhadap tumbuh kembang
anak yang akan mengakibatkan anak susah
diajak berkomunikasi, kurangnya respon pada saat orang tua mengajak berbicara dan saat di sekolah
anak kurang aktif dalam mengikuti
pelajaran.
Konsentrasi belajar
adalah terpusatnya perhatian
siswa pada proses pembelajaran
yang berlangsung tanpa melakukan hal-hal lain. Menurut Dimyati dan Mudjiono, ―Konsentrasi belajar
merupakan kemampuan memusatkan
perhatian pada pelajaran. Pemusatan perhatian tersebut tertuju
pada isi bahan belajar maupun proses memperolehnya Jika seorang siswa tidak dapat berkonsentrasi
dalam belajar, bisa jadi ia tidak dapat menikmati proses belajar yang dilakukannya. Hal ini bisa saja
dikarenakan mata pelajaran yang dipelajari dianggap sulit sehingga tidak dapat menyukai
pelajaran tersebut, guru yang menyampaikan tidak disukai karena beberapa
alasan, suasana dan tempat tidak menyenangkan, atau bahkan cara penyampaiannya membosankan.
Penurunan konsentrasi pada anak dapat memberikan dampak negatif terhadap
tumbuh kembang anak yang akan mengakibatkan anak susah diajak berkomunikasi, kurangnya respon pada saat orang tua
mengajak berbicara dan saat disekolah anak kurang aktif dalam mengikuti pelajaran. Hal ini disebabkan karena anak terbiasa
menggunakan gadget untuk mengisi
kegiatan, sumber penghiburan bahkan gadget menjadi teman setiannya, sehingga
mereka tidak tahan jika harus berpisah lama dengan gadgetnya. (Wijarnako, 2017).
Salah
satu faktor yang mempengaruhi keberhasilan siswa dalam belajar adalah motivasi. Adanya motivasi siswa
akan belajar lebih keras, ulet, tekun dan memiliki
konsentrasi penuh dalam proses belajar. Motivasi belajar pada dasarnya adalah suatu usaha yang didasari untuk
menggerakkan, menerahkan dan menjaga tingkah laku seseorang agar ia terdorong
untuk melakukan sesuatu
sehingga mencapai hasil atau tujuan tertentu. Motivasi yang tinggi
dalam belajar akan mempengaruhi
hasil belajar siswa, artinya semakin tinggi motivasi siswa dalam belajar,
semakin tinggi pula upaya dan
usaha yang dilakukan, maka semakin tinggi hasil belajar
yang diperolehnya.
Sudut
pandang ilmu kesehatan jiwa, penggunaan gadget
untuk usia dini sangat tidak di
sarankan karena dapat menggangu proses tumbuh kembangnya secara alami. Penggunaan gadget
yang berlebihan pada siswa terkadang sering menimbulkan masalah (Hasanah
& Kumalasari, 2015)pada
proses belajar. (Saroinsong, 2016) Penggunaan gadget berdampak merugikan pada
keterampilan interpersonal anak jika
terlalu sering digunakan. Pengaruh handphone terhadap prestasi belajar siswa yang lain adalah siswa menjadi lebih mengandalkan handphone
daripada harus belajar
(Harfiyanto, Cahyo, & Tjaturahono, 2015).
Dengan
adanya permasalahan penurunan konsentrasi belajar siswa yang disebabkan oleh
gadget maka Intansi pendidikan terutama
bagi guru ini dapat menjadi
masukan untuk meninjau
kembali dan memperhatikan konsentrasi belajar para muridnya terutama yang menggunkan gadget.
Perilaku Mencontek di SMP
Sering kali perilaku mencotek di anggap benar oleh siswa-siswi, karena
kejujuran tidak berarti dibanding dengan nilai yang tinggi , jadi siswa dan
siswi akan melakukan segala cara agar nilai mereka tinggi. Orang tua juga akan
memarahi jika nilai anak rendah sehingga anak akan berbuat curang agar nilai
mereka tinggi. Dengan adanya masalah ini maka system Pendidikan, pola pikir
anak bangsa harus di koreksi Kembali.
Perilaku
menyontek disebabkan oleh beberapa hal yaitu tingkat
efikasi diri yang rendah. Jannah (dalam Myers, 2005) bahwa efikasi diri sangat berperan penting dalam diri
siswa. Siswa dengan efikasi diri yang tinggi akan memperlihatkan
sikap yang lebih gigih, tidak cemas dan tidak mengalami
tekanan dalam menghadapi masalah, dan siswa yang memiliki tingkat efikasi diri yang rendah
akan memperlihatkan situasi sebaliknya.
Perilaku
menyontek merupakan suatu perbuatan atau cara-cara yang tidak jujur, curang, dan menghalalkan segala macam cara yang dilakukan
seseorang untuk mencapai
nilai yang terbaik
dalam menyelesaikan tugas
terutama pada ulangan atau ujian. (Hartanto, 2012:10)
Menyontek atau ngepek menurut Kamus
Besar Indonesia adalah mencontoh, meniru atau
mengutip tulisan.
Menurut (Gerdeman, 2000:2) menyebutkan
bahwa 4 faktor yang berhubungan dengan perilaku ketidakjujuran pelajar (dishonest
student behavior) yaitu :Karakteristik individual (individual characteristics), Pengaruh teman sebaya,
Pengaruh bimbingan, Kebijaksanaan institusi.
Terkait dengan dampak negatif siswa menyontek peneliti juga menggunakan indikator
sebagi acuan dalam penelitian ini. Dampak negatif
siswa menyontek menggunakan indiktor: 1) malas belajar, 2)
biasa berbohong, 3) menghalalkan segala cara,
4) menular, 5) tidak percaya diri.
Adapun cara mengatasi
perilaku mencontek yang pertama meningkatkan semangat belajar kepada anak,
meningkatkan rasa percaya diri anak, apresiasi usaha anak, jangan hanya fokus
terhadap hasil dan jangan pernah membanding-bandingkan antar anak.
Perilaku Bullying Pada Remaja Sekolah Menengah Pertama (SMP)
Oleh: Nadzifatun Nisa, S.Pd.
Bullying merupakan masalah yang terjadi di hampir setiap jenjang Pendidikan baik itu di sekolah dasar, sekolah menengah, sekolah atas bahkan di perguruan tinggi sekali pun, penyebab dari bullying ini bisa terjadi karna status sosial, ekonomi ataupun Ras dan budaya. Disetiap instansi pendidikan hendaknya mengetahui keberadaan dan dampak bullying serta berusaha mencegah hal tersebut terjadi. Apabila kejadian bullying didiamkan atau masih terjadi, siswa akan rentan mengalami Tindakan bullying baik itu secara verbal ataupun non verbal dan akibatnya secara psikologis siswa dapat mengalami stress dan tidak berani bergaul dengan teman-teman yang lain.
Menurut Wiyani (2012:20) Bullying adalah suatu bentuk kekerasan anak (child abuse) yang dilakukan oleh teman sebaya kepada seseorang (anak) yang lebih “rendah” atau lebih lemah untuk mendapatkan keuntungan atau kepuasan tertentu. Sehingga pelaku bullying senang untuk melalukan bully kepada teman-temannya untuk mendapatkan kepuasan atau keuntungan dari mereka. Sedangkan korban bullying disini Menurut Rigby dan Muis (2009:51) korban bullying adalah sasaran penindasan atau yang lebih dikenal dengan istilah victims.
Dampak yang diakibatkan oleh tindakan ini pun sangat luas cakupannya. Remaja yang menjadi korban bullying lebih berisiko mengalami berbagai masalah kesehatan, baik secara fisik maupun mental. Adapun masalah yang lebih mungkin diderita anak-anak yang menjadi korban bullying, antara lain munculnya berbagai masalah mental seperti depresi, kegelisahan dan masalah tidur yang mungkin akan terbawa hingga dewasa, keluhan kesehatan fisik, seperti sakit kepala, sakit perut dan ketegangan otot, rasa tidak aman saat berada di lingkungan sekolah, dan penurunan semangat belajar dan prestasi akademis.
Faktor Penyebab terjadinya Bullying Menurut Ariesto (2009), faktor-faktor penyebab terjadinya bullying antara lain: (1) Keluarga Pelaku bullying seringkali berasal dari keluarga yang bermasalah : orang tua yang sering menghukum anaknya secara berlebihan, atau situasi rumah yang penuh stress, agresi, dan permusuhan. (2) Sekolah Pihak sekolah sering mengabaikan keberadaan bullying ini. (3) Faktor Kelompok Sebaya, Anak-anak ketika berinteraksi dalam sekolah dan dengan teman di sekitar rumah, kadang kala terdorong untuk melakukan bullying. (4) Kondisi lingkungan sosialKondisi lingkungan sosial dapat pula menjadi penyebab timbulnya perilaku bullying. (5) Tayangan televisi dan media cetak Televisi dan media cetak membentuk pola perilaku bullying dari segi tayangan yang mereka tampilkan.
Faktor lain yang merupakan faktor dominan yang merubah seseorang menjadi bully adalah kelompok bermain remaja. Faktor ini merupakan faktor yang muncul dan diadapsi ketika seorang individu tumbuh dan menjadi seorang remaja. Ketika remaja tidak memiliki pedoman dalam memilih kelompok bermain, remaja bisa jadi masuk ke dalam kelompok bermain yang mengarah pada kegiatan-kegiatan kenakalan remaja. Remaja merupakan individu dengan fase perkembangan psikologis di mana ia sangat membutuhkan pengakuan eksistensi diri. Kelompok bermain remaja yang menyimpang bisa jadi mencari pengakuan eksistensi diri dari menindas orang yang dirasa lebih lemah agar dia memiliki pengakuan dari lingkungannya bahwa ia memiliki keberanian dan kekuasaan.
Berikut adalah
hal-hal yang bisa dilakukan oleh kita sebagai pekerja sosial dengan remaja yang berperan sebagai konselor bagi remaja pelaku bullying (Lee, 2010).
·
Bicaralah dengan bully dan cobalah cari tahu mengapa
mereka merasa perlu berperilaku seperti itu.
·
Cari tahu apa yang mengganggu mereka atau apa yang memicu
tingkah laku tersebut
·
Pastikan remaja bully mengerti bahwa perilaku merekalah
yang tidak disukai,
bukan mereka
·
Yakinkan bully bahwa anda bersedia membantu mereka dan anda akan bekerja dengan mereka untuk menemukan cara untuk mengubah
perilaku mereka yang tidak dapat
diterima
·
Bantu pelaku bully untuk menebus
kesalahan pada korbannya. Jelaskan bagaimana cara meminta maaf karena telah membuat orang lain menderita dan bantu bully
untuk menjelaskan alasan perbuatannya.
·
Berikan banyak pujian serta dukungan dan pastikan anda mengatakan pada pelaku bully ketika
mereka berperilaku baik dan berhasil
mengatur emosi dan perasaannya.
Bersiap untuk mengkonfrontasi pelaku bully ketika mereka mulai membuat alasan atas perbuatannya seperti ‘itu cuma bercanda’ atau ‘dia yang salah’. Jelaskan bahwa lelucon tidak menyebabkan kesulitan dan ancaman.




